Budaya Risiko di Organisasi
Salah satu hal terpenting dalam implementasi manajemen risiko adalah menciptakan budaya yang sadar risiko, atau yang disebut ‘budaya risiko’. Budaya risiko adalah kondisi di mana manajemen risiko menjadi bagian yang sangat ditekankan, hampir seperti menjadi ‘cara hidup’. Jika kita berhasil menanamkan budaya seperti ini, kemungkinan besar implementasi manajemen risiko akan berjalan dengan baik. Hal ini dapat terjadi karena setiap tindakan yang dilakukan selalu mempertimbangkan faktor risiko dengan bijak dan sudah menjadi kebiasaan yang umum oleh setiap individu di organisasi. Oleh karena itu, budaya risiko merupakan bagian kunci dalam menyelesaikan masalah umum dalam manajemen risiko yang dihadapi oleh organisasi.
Namun, mendefinisikan budaya risiko bukanlah hal yang mudah. Lebih mudah melihat apa yang dicapai ketika budaya tersebut berhasil berfungsi. Budaya risiko adalah budaya di mana penilaian potensi ancaman menjadi bagian yang jelas dan penting dalam proses pengambilan keputusan. Karyawan didorong untuk melaporkan informasi tentang kerentanan ke bagian yang lebih tinggi dalam organisasi untuk diselesaikan, dan secara horizontal untuk berbagi “best practice”. Dengan kata lain, informasi tentang risiko yang mendukung pengambilan keputusan harus mengalir tanpa hambatan melalui organisasi, dan manajer harus bersedia untuk bertindak berdasarkan informasi ini. Budaya risiko, jika diimplementasikan dengan baik, akan menjadi garis pertahanan pertama suatu perusahaan: risiko akan terdeteksi oleh perusahaan dan mendapat perhatian yang tepat tanpa menimbulkan kehebohan.
Ketika ada budaya risiko yang kuat, maka manajemen risiko ini berlangsung secara otomatis dan tanpa hambatan. Organisasi tersebut menjadi peka terhadap risiko dan menanggapinya secara serius. Budaya risiko merupakan faktor utama dalam menentukan bagaimana risiko terjadi diidentifikasi dan dinilai, dan bagaimana informasi tersebut menyebar melalui organisasi dan pada akhirnya mempengaruhi pengambilan keputusan. Mengidentifikasi kerentanan dalam rantai nilai perusahaan harus menjadi kebiasaan karyawan, artinya mereka pandai mengenali risiko dan mengevaluasi konsekuensi yang dapat mengubah keadaan. Karyawan bersedia untuk secara bebas membagikan informasi ini kepada pimpinan yang lebih tinggi dalam hierarki perusahaan. Artinya, daripada menimbun dan menyembunyikan data dari pandangan pimpinan, lebih baik data tersebut diteruskan ke atas dan para pimpinan dapat mengambil tindakan secara tepat. Maka dapat disimpulkan tiga unsur pembentuk budaya risiko yang baik adalah :
- Meningkatnya kesadaran untuk mendeteksi risiko secara berkelanjutan
- Kesediaan untuk berbagi dan melaporkan informasi terkait risiko
- Kesediaan untuk memasukkan risiko ke dalam pengambilan keputusan
referensi:
Jankensgård, H., Kapstad, P. 2021. Empowered enterprise risk management : theory and practice. Hoboken: Wiley.
Published at :